Terinspirasi Dunia Satwa, Peneliti Jerman Rancang Teknologi Pembersih Sampah Antariksa
Jakarta – Sampah antariksa yang berada di orbit Bumi tidak dapat dipungut begitu saja. Hal ini terkait dengan kecepatan tinggi di lingkungan tanpa gravitasi efektif seperti di permukaan bumi.
Sampah antariksa merupakan benda-benda di orbit yang terbang di angkasa, tepatnya di Low Earth Orbit (LEO) yang berada di ketinggian 2.000 kilometer dari permukaan bumi, menjadi tempat sampah luar angkasa.
Salah satu peristiwa yang berkontribusi terhadap sampah antariksa adalah saat Tiongkok melakukan penghancuran pesawat luar angkasa Fengyun-1C pada tahun 2007 atau pada saat terjadi tabrakan pesawat luar angkasa milik Rusia dan Amerika Serikat pada tahun 2009.
Meski tidak mudah, berikut lima metode yang dapat menjadi alternatif untuk ‘memungut’ 1,2 juta serpihan di luar angkasa tersebut, seperti dikutip dari BBC Science Focus.
1. Satelit Lekat
Para peneliti di Jerman mengembangkan konsep yang terinspirasi dari kaki tokek, dapat menempel pada permukaan yang disentuhnya. Secara sederhana, rencananya mencakup melapisi permukaan satelit yang dirilis ke luar angkasa dengan material sintetis yang terinspirasi dari cicak sehingga akan menempel dengan puing-puing yang melewati satelit tersebut.
2. Robot Tentakel
European Space Agency (ESA) telah memulai pengembangan teknologi tersebut dengan target untuk melakukan penyingkiran sampah dari orbit secara berulang supaya operasinya tidak berat secara finansial. ESA juga menjelaskan “Teknologi yang kemungkinan besar akan kita gunakan sekarang sebenarnya terdiri dari semacam lengan, seperti tentakel, yang merangkul objek karena Anda dapat menangkap objek tersebut sebelum menyentuhnya.”
3. Tombak Antariksa
Alternatif lainnya adalah pemasangan harpun pada satelit, yang dapat melesat dengan kecepatan 20 meter per detik dan bekerja dengan cara menusuk puing-puing luar angkasa. Uji coba telah dilakukan dan hasilnya harpun dapat mengenai target, namun harpun ini belum pernah digunakan dalam uji coba penangkapan sampah antariksa yang sesungguhnya.
4. Meriam Laser
Pada 2015, peneliti di Jepang mengusulkan pemasangan laser berkekuatan 500.000 watt pada satelit yang akan digunakan untuk menembaki sampah di LEO dan dapat kembali lebih cepat ke bumi. NASA juga pernah meneliti solusi serupa, bedanya laser terletak di bumi dan ditembakkan menggunakan jalur satelit yang sedang beroperasi.
5. Laso Antariksa
Laso yang dikembangkan oleh peneliti di Jepang ini disebut sebagai electrodynamic tether, berupa kabel konduktif sepanjang 700 meter dan dapat dipasang pada satelit sebelum diluncurkan ke luar angkasa.
Ketika satelit sudah menyelesaikan operasinya di luar angkasa, kabel konduktif ini akan dilepaskan untuk kemudian berinteraksi dengan medan magnet bumi dan menarik satelit ke atmosfer sehingga tidak menjadi sampah di ruang angkasa.
Sampah antariksa memang tidak bisa dipungut seperti sampah di Bumi. Namun, dari material yang terinspirasi kaki gecko hingga laser, para peneliti terus mencari cara agar benda-benda yang sudah tidak terpakai itu tidak terus memenuhi orbit dan membahayakan objek lain.
Penulis adalah peserta magangHub Kemnaker di detikcom.
Sumber Berita:
Detik Edu

















