• Tentang Kami
  • Info Pariwara
  • Pedoman Media Siber
  • Syarat & Kondisi
  • Disclaimer
  • Terms of Service
  • Kebijakan Privasi
  • Kontak
Senin, 24 Agustus 2026
Beritacore.com | Suara, Tren, dan Gaya Hidup Gen Z Indonesia
No Result
View All Result
  • Login
  • Home
  • Core News
    • Viral
    • Indo Pop
    • Netizen
  • Lifestyle
    • Fits (Fashion)
    • Gadget & Games
    • Hype & Kuliner
  • Inforial
    • Selebriti
    • Olah Raga
    • Pendidikan
    • Otomotif
    • Kota Pekanbaru
  • Mindset
    • Hustle (Karier/Uang)
    • Mental Health
    • Education
  • Pop Culture
    • Hiburan
    • Film & Series
    • Musik/K-Pop
  • Kontak
Beritacore.com | Suara, Tren, dan Gaya Hidup Gen Z Indonesia
  • Home
  • Core News
    • Viral
    • Indo Pop
    • Netizen
  • Lifestyle
    • Fits (Fashion)
    • Gadget & Games
    • Hype & Kuliner
  • Inforial
    • Selebriti
    • Olah Raga
    • Pendidikan
    • Otomotif
    • Kota Pekanbaru
  • Mindset
    • Hustle (Karier/Uang)
    • Mental Health
    • Education
  • Pop Culture
    • Hiburan
    • Film & Series
    • Musik/K-Pop
  • Kontak
No Result
View All Result
Berita Core
No Result
View All Result
Home Lifestyle Gadget & Games

Di Antara Shanghai dan Silicon Valley: Arah Kebijakan Tata Kelola AI di Indonesia

Berita Core oleh Berita Core
Senin, 24 Agustus 2026
in Gadget & Games
A A
0
tata kelola ai indonesia
189
DIBAGIKAN
1.5k
VIEWS
BagikanBagikan

Di Antara Shanghai dan Silicon Valley: Arah Kebijakan Tata Kelola AI di Indonesia

Jakarta – Ada satu paradoks yang jarang dibicarakan di balik gegap gempita adopsi kecerdasan artifisial (AI) di Indonesia. Negara ini adalah salah satu pengguna AI paling antusias di dunia, tetapi belum memutuskan di bawah tata kelola siapa antusiasme itu akan diarahkan.

READ ALSO

kebakaran lahan gambut, api bawah tanah gambut, penyebab kebakaran gambut sulit padam, fenomena api tak terlihat gambut, karhutla lahan gambut, karakter kebakaran gambut, smoldering fire gambut

Mengapa Kebakaran Gambut Sulit Padam? Fenomena Api Bawah Tanah Jadi Penyebabnya

Senin, 24 Agustus 2026
Kembali ke Era Analog (1)

Kembali ke Era Analog: Kenapa Gen Z Ramai-Ramai Tinggalkan Earphone Wireless dan Beralih ke Kabel?

Jumat, 31 Juli 2026
Pemerintah mencatat tingkat adopsi AI nasional mencapai 92 persen pada Februari 2026, angka yang menempatkan Indonesia sebagai pasar AI paling bergairah di Asia Tenggara. Namun di saat yang sama, dua Rancangan Peraturan Presiden tentang Peta Jalan AI Nasional dan Etika AI yang naskahnya sudah rampung sejak Desember 2025 masih mengantre di meja Presiden hingga pertengahan Agustus 2026.Kekosongan regulasi ini bukan sekadar persoalan administratif. Ia adalah cermin dari posisi Indonesia yang sedang berdiri di persimpangan dua kutub tata kelola AI dunia: model Shanghai dan model Silicon Valley.Dua Kutub, Satu Persimpangan

Pada Agustus 2026, dalam forum Consultation on Strategic Dialogue (CSD) Indonesia-Tiongkok, pemerintah mengonfirmasi bahwa Indonesia telah bergabung dengan World Artificial Intelligence Cooperation Organization (WAICO). Ini adalah organisasi kerja sama AI yang diinisiasi di Shanghai dan berada di bawah naungan Perserikatan Bangsa-Bangsa. Kerja sama itu dibingkai dengan bahasa yang menggiurkan: transfer teknologi, pengembangan rantai pasok semikonduktor berbasis mineral kritis Indonesia, dan peran Indonesia dalam pembentukan tata kelola AI internasional.Di sisi lain, arus Silicon Valley bekerja dengan cara yang berbeda, lebih senyap, tetapi tidak kalah efektif. Pemerintah sendiri mengakui bahwa sejumlah perusahaan dari luar negeri, termasuk dari Amerika Serikat, meminta agar draf Perpres AI dibahas ulang. Permintaan ini datang justru ketika naskah regulasi sudah dinyatakan final dan tinggal menunggu tanda tangan Presiden Prabowo Subianto. Kita patut bertanya, apakah mundurnya jadwal penandatanganan Perpres yang semula ditargetkan awal 2026 murni karena padatnya antrean administrasi Sekretariat Negara, ataukah ada negosiasi diam-diam yang sedang berlangsung di ruang-ruang yang tidak terjangkau publik?Inilah yang saya sebut sebagai diplomasi algoritma: pertarungan pengaruh antarnegara dan antarkorporasi yang tidak lagi diperebutkan lewat pangkalan militer atau perjanjian dagang semata, melainkan lewat siapa yang menulis aturan main teknologi di negara berkembang berpenduduk 280 juta jiwa.Ironi terbesarnya terlihat jelas pada pembukaan pameran teknologi INTI 2026 di Jakarta, 11 Agustus lalu. Pemerintah dengan bangga memamerkan penerapan AI pada program-program yang sedang berjalan, seperti ketahanan pangan, kesehatan, hingga pendidikan, sementara pertanyaan yang menggantung di setiap ruang pameran tetap sama: dapatkah tata kelola mengejar laju pertumbuhan?

Negara sedang berlari dengan algoritma tetapi berjalan kaki dengan regulasi. Kementerian Komunikasi dan Digital berulang kali menegaskan bahwa Perpres ini akan menjadi ‘test case’ menuju Undang-Undang AI. Namun sebuah test case yang tak kunjung dimulai bukanlah eksperimen, ia adalah penundaan. Dan setiap bulan penundaan memiliki konsekuensi komunikasi publik yang nyata seperti kasus penipuan deepfake yang mencatut wajah tokoh agama, penyalahgunaan aplikasi AI untuk mengedit foto perempuan, hingga banjir konten sintetis yang semakin sulit dibedakan dari kenyataan. Komisi I DPR sudah menyuarakan kekhawatiran ini sejak Januari. Publik menghadapi risiko-risiko itu hari ini, bukan nanti ketika Perpres diteken.

Persimpangan ini juga menyangkut pertanyaan ekonomi-politik yang lebih mendasar. Pejabat pemerintah sendiri telah mengingatkan bahwa pasar Indonesia yang besar harus menjadi daya tawar untuk menarik investasi, transfer teknologi, dan pengembangan talenta bukan sekadar menjadi tempat teknologi dikonsumsi sementara nilai tambah, keahlian, dan kepemilikannya berkembang di negara lain. Peringatan itu tepat, tetapi daya tawar hanya efektif jika negara memiliki kerangka aturan yang jelas dan berdaulat.

Tanpa Perpres yang berlaku, posisi tawar Indonesia dalam diplomasi algoritma menjadi lemah di kedua arah. Kepada Tiongkok, kita hadir sebagai anggota WAICO tanpa doktrin tata kelola sendiri yang bisa diperjuangkan. Kepada Amerika Serikat dan raksasa teknologinya, kita hadir sebagai pasar 280 juta pengguna yang aturan mainnya masih bisa ‘dibahas ulang’. Keduanya adalah posisi objek, bukan subjek.

Sebagai pengamat komunikasi, saya melihat dimensi lain yang tak kalah penting yaitu kekosongan regulasi juga menciptakan kekosongan narasi. Ketika negara tidak memiliki kerangka etika AI yang resmi, ruang publik digital diisi oleh narasi siapa pun yang paling lantang, vendor teknologi yang menjual solusi, platform global yang menetapkan standar komunitasnya sendiri, atau aparat yang menafsirkan sendiri batas antara konten kritis dan konten ‘provokatif’. Tata kelola AI bukan hanya soal teknologi, ia adalah soal siapa yang berhak mendefinisikan kebenaran di ruang digital Indonesia.

Tiga Langkah Keluar dari Persimpangan

Pertama, tanda tangani Perpres Peta Jalan dan Etika AI tanpa penundaan lebih lanjut, dan buka kepada publik catatan perubahan apa saja jika ada yang lahir dari masukan pihak asing. Transparansi proses adalah satu-satunya cara membuktikan bahwa regulasi ini ditulis di Jakarta, bukan di Shanghai atau Palo Alto.

Kedua, jadikan keanggotaan WAICO dan hubungan dengan ekosistem AS sebagai instrumen yang setara dan saling mengimbangi, bukan pilihan biner. Politik luar negeri bebas-aktif harus punya terjemahan digitalnya yaitu belajar infrastruktur dan manufaktur dari Timur, standar keamanan dan riset dari Barat, sambil membangun kapasitas komputasi dan talenta di dalam negeri.

Ketiga, imbangi pendekatan regulasi dengan investasi literasi. Perpres yang dirancang tanpa sanksi hukum hanya akan bermakna jika masyarakat dari birokrat hingga pelajar di Palangka Raya memahami cara kerja, manfaat, dan risiko AI. Tata kelola terbaik bukanlah yang paling ketat, melainkan yang paling dipahami oleh warganya.

Indonesia tidak harus memilih Shanghai atau Silicon Valley. Tetapi Indonesia harus memilih untuk berdaulat. Dan kedaulatan digital dimulai dari hal yang paling sederhana sekaligus paling tertunda: sebuah tanda tangan.

Dr. Ressa Uli Patrissia, S.S, M.Ikom, AMIPR adalah pengamat Komunikasi dan Teknologi, Universitas Muhammadiyah Palangka Raya, Kalimantan Tengah.

 

Sumber Berita:
Detik Inet

Tags: ai shanghai vs silicon valleyarah pengembangan ai indonesiakebijakan ai di indonesiaperbandingan regulasi ai globalregulasi kecerdasan buatantata kelola ai indonesiatata kelola teknologi indonesia
bagikan76Tweet47Sendbagikan
Sebelumnya

Niat Hati Bikin Kreasi Unik, Pani Puri Isian Daging Babi Malah Panen Hujatan Netizen India

Berikutnya

Mengapa Kebakaran Gambut Sulit Padam? Fenomena Api Bawah Tanah Jadi Penyebabnya

Berita Core

Berita Core

Beritacore.com adalah portal berita Gen Z Indonesia terlengkap. Update info terbaru seputar tren masa kini, musik, film, teknologi, dan gaya hidup anak muda.

Berita Terkait

kebakaran lahan gambut, api bawah tanah gambut, penyebab kebakaran gambut sulit padam, fenomena api tak terlihat gambut, karhutla lahan gambut, karakter kebakaran gambut, smoldering fire gambut

Mengapa Kebakaran Gambut Sulit Padam? Fenomena Api Bawah Tanah Jadi Penyebabnya

Senin, 24 Agustus 2026
Kembali ke Era Analog (1)

Kembali ke Era Analog: Kenapa Gen Z Ramai-Ramai Tinggalkan Earphone Wireless dan Beralih ke Kabel?

Jumat, 31 Juli 2026
Tren Gaya Hidup Gen Z

10 Tren Gaya Hidup Gen Z Paling Populer di 2026: Kreatif, Fleksibel, dan Serba Digital

Jumat, 31 Juli 2026
Tren Game 2026

Tren Game 2026 yang Wajib Masuk Playlist Kamu: Bye Spek Dewa, Halo Era AI!

Rabu, 29 Juli 2026
Berikut Penjelasan Zuckerberg Soal Saham Meta Anjlok

Berikut Penjelasan Zuckerberg Soal Saham Meta Anjlok

Senin, 6 Juli 2026
BlackBerry Jual Paten Ponselnya Kepada Catapult IP Innovations Inc Seharga Rp 8 Triliun

BlackBerry Jual Paten Ponselnya Kepada Catapult IP Innovations Inc Seharga Rp 8 Triliun

Senin, 6 Juli 2026
BERITA LAINNYA
Berikutnya
kebakaran lahan gambut, api bawah tanah gambut, penyebab kebakaran gambut sulit padam, fenomena api tak terlihat gambut, karhutla lahan gambut, karakter kebakaran gambut, smoldering fire gambut

Mengapa Kebakaran Gambut Sulit Padam? Fenomena Api Bawah Tanah Jadi Penyebabnya

Berita Populer

  • Pesta Rakyat Desa Pagaruyung, Dyka Ruyung Kelana Dilantik Jadi Kades

    Pesta Rakyat Desa Pagaruyung, Dyka Ruyung Kelana Dilantik Jadi Kades

    208 dibagikan
    bagikan 83 Tweet 52
  • Upacara Virtual HUT Brimob Polri ke-76 Secara Serentak Seluruh Nusantara

    202 dibagikan
    bagikan 81 Tweet 51
  • Rakit Robot Hingga Memprogram Drone, Ahmad Ghani Al Ghifari Catat Berbagai Prestasi di Bidang Robotik

    201 dibagikan
    bagikan 80 Tweet 50
  • Road To Campus, Forum Human Capital Bekali Mahasiswa Unilak Hadapi Dunia Kerja

    200 dibagikan
    bagikan 80 Tweet 50
  • Jelang HUT Ke-76 Korps Brimob Polri, Brimob Polda Riau Gelar Baksos di Tempat Ibadah

    199 dibagikan
    bagikan 80 Tweet 50

Berita Terbaru

kebakaran lahan gambut, api bawah tanah gambut, penyebab kebakaran gambut sulit padam, fenomena api tak terlihat gambut, karhutla lahan gambut, karakter kebakaran gambut, smoldering fire gambut

Mengapa Kebakaran Gambut Sulit Padam? Fenomena Api Bawah Tanah Jadi Penyebabnya

Senin, 24 Agustus 2026
tata kelola ai indonesia

Di Antara Shanghai dan Silicon Valley: Arah Kebijakan Tata Kelola AI di Indonesia

Senin, 24 Agustus 2026
pani-puri

Niat Hati Bikin Kreasi Unik, Pani Puri Isian Daging Babi Malah Panen Hujatan Netizen India

Senin, 24 Agustus 2026
Kualitas Air Pengaruhi Bisnis Kuliner

Pentingnya Kualitas Air Bagi Usaha Kuliner dan Solusi yang Dihadirkan ANGEL

Senin, 24 Agustus 2026
Apa yang Terjadi Pada Tubuh Jika Stop Gula dan Tepung? Ini Kata Dokter Gizi

Apa yang Terjadi Pada Tubuh Jika Stop Gula dan Tepung? Ini Kata Dokter Gizi

Senin, 24 Agustus 2026

EDITOR'S PICK

Minimalisir Terjadinya Kriminalitas dan Penularan Covid-19, Polsek Langgam Gencarkan Patroli Keliling

Minimalisir Terjadinya Kriminalitas dan Penularan Covid-19, Polsek Langgam Gencarkan Patroli Keliling

Senin, 22 November 2021
Hal Ini Menyebabkan AKP Novandi dan Fatimah Tak Bisa Melarikan Diri Saat Mobil Camry Miliknya Terbakar

Hal Ini Menyebabkan AKP Novandi dan Fatimah Tak Bisa Melarikan Diri Saat Mobil Camry Miliknya Terbakar

Jumat, 11 Februari 2022
Secara Intens, Polsek Teluk Meranti Gencar Operasi Yustisi

Secara Intens, Polsek Teluk Meranti Gencar Operasi Yustisi

Selasa, 16 November 2021

Tertibkan Prokes di Malam Hari, Polsek Pangkalan Kuras Sasar Sejumlah Cafe

Rabu, 29 Desember 2021
logo-berita-core-footer

Portal Berita Gen Z
Biar nggak FOMO, pantengin Beritacore.com! Tempat nongkrongnya Gen Z Indonesia buat update berita viral, pop culture, dan obrolan yang lagi hangat hari ini.

Follow us

Install Web App

installation-qr-code (1)
  • Tentang Kami
  • Info Pariwara
  • Pedoman Media Siber
  • Syarat & Kondisi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Terms of Service
  • Kebijakan Privasi

© 2025 Beritacore.com.

No Result
View All Result
  • Home
  • Core News
    • Viral
    • Indo Pop
    • Netizen
  • Lifestyle
    • Fits (Fashion)
    • Gadget & Games
    • Hype & Kuliner
  • Inforial
    • Selebriti
    • Olah Raga
    • Pendidikan
    • Otomotif
    • Kota Pekanbaru
  • Mindset
    • Hustle (Karier/Uang)
    • Mental Health
    • Education
  • Pop Culture
    • Hiburan
    • Film & Series
    • Musik/K-Pop
  • Kontak

© 2025 Beritacore.com.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist