Fenomena Main Character Energy: Niatnya Self-Love, Kenapa Malah Bikin Gen Z Merasa Insecure?
JAKARTA — Di tengah masifnya narasi kesehatan mental dan pergerakan mencintai diri sendiri (self-love) di media sosial, istilah Main Character Energy muncul sebagai tren yang sangat populer di kalangan Generasi Z. Konsep ini mengajak seseorang untuk menempatkan dirinya sebagai “tokoh utama” dalam alur cerita kehidupannya sendiri—menikmati momen-momen kecil, meromantisasi rutinitas harian, dan berani mengekspresikan diri tanpa memikirkan penilaian orang lain.
Namun, di balik semangat positif yang diusungnya, muncul sebuah teka-teki psikologis baru. Alih-alih melahirkan rasa percaya diri yang otentik, fenomena ini justru sering kali membuat banyak anak muda merasa semakin insecure dan tidak puas dengan kehidupan nyata mereka.
Ketika “Meromantisasi Hidup” Menjadi Beban Estetika
Ide awal dari Main Character Energy sebenarnya sangat sederhana dan menyehatkan: belajar menghargai diri sendiri dan menikmati perjalanan hidup. Masalah mulai timbul ketika tren ini diterjemahkan secara visual dan serba terkurasi di platform media sosial seperti TikTok dan Instagram.
Momen “tokoh utama” kerap diidentikkan dengan standar estetika tertentu—seperti minum kopi di kafe yang pencahayaannya sempurna, mengenakan pakaian ala filter film, atau selalu memiliki narasi hidup yang dramatis dan inspiratif.
Awalnya saya merasa terinspirasi untuk bikin hidup lebih berkesan. Tapi lama-kelamaan malah jadi capek sendiri. Kalau hari saya biasa saja, tidak estetis, atau lagi berantakan, saya merasa gagal jadi ‘tokoh utama’ dalam hidup saya sendiri,” tutur Dina (21), seorang mahasiswa di Jakarta.
Jebakan Ekspektasi dan Perbandingan Tak Berkesudahan
Para praktisi psikologi menilai bahwa fenomena ini berisiko berubah menjadi Main Character Syndrome, di mana batas antara realitas dan ekspektasi fiktif menjadi kabur. Beberapa pemicu mengapa tren ini justru memicu rasa insecure antara lain:
- Ekspektasi Plot Film di Dunia Nyata: Kehidupan nyata penuh dengan rutinitas membosankan, kegagalan, dan ketidakpastian. Menuntut hidup agar selalu memiliki alur cerita yang menarik layaknya skenario film hanya akan membuahkan rasa kecewa.
- Perbandingan yang Disamarkan sebagai Self-Love: Ketika melihat konten main character orang lain yang terlihat sempurna, seseorang tanpa sadar membandingkan realitas kehidupannya yang rumit dengan potongan video 15 detik orang lain yang sudah disunting.
- Tekanan untuk Selalu Tampil Sempurna: Dorongan untuk selalu terlihat menawan dan memiliki kontrol atas situasi menciptakan beban emosional baru yang memicu rasa cemas (anxiety).
Menemukan Batas Antara Menghargai Diri dan Menerima Realitas
Mencintai diri sendiri tentu bukan hal yang salah. Namun, kunci dari self-love yang sehat adalah penerimaan atas seluruh spektrum kehidupan—termasuk hari-hari biasa yang tidak estetis dan momen-momen ketika kita merasa menjadi “tokoh figuran.”
Pakar kesehatan mental menyarankan agar Gen Z mulai memisahkan antara menghargai nilai diri (self-worth) dengan tuntutan estetika media sosial. Menjadi diri sendiri secara utuh, dengan segala kekurangan dan kepolosannya, adalah bentuk Main Character Energy yang sejati—tanpa perlu kamera, filter, atau persetujuan penonton di media sosial.


















